hukum keluarga

Cara Sah Mengadopsi Anak

Tata cara adopsi anak telah diatur dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UU Perlindungan Anak )

Munculnya kasus Anak Angeline menuai komentar tajam dari praktisi perlindungan anak dan menteri sosial, tentang proses adopsi anak yang tidak sah.

Lalu bagaimana langkah yang sah mengadopsi anak menurut hukum Indonesia ?

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena mungkin Anda atau tetangga, teman bahkan saudara anda sendiri sudah melakukan pengadopsian anak secara tidak sah.

Sebaiknya kita waspada terhadap pelanggaran Undang Undang Perlindungan anak,

pemalsuan dokumen atau bahkan tuduhan terlibat dalam tindak pidana perdagangan manusia.

Baca juga Notaris dan Profesi Lain yang Harus Lapor Tentang Dugaan Praktik Pencucian Uang

Tata cara adopsi anak telah diatur dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UU Perlindungan Anak),

dengan peraturan pelaksana berupa Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak (PP Adobsi),

dan dijelaskan lebih rinci dalam Peraturan Menteri Sosial Nomor 110 Tahun 2009 (PERMEN) tentang Persyaratan Pengangkatan Anak.

Dari ketiga Peraturan tersebut dapat dirangkum beberapa syarat utama sebagai berikut:


[Syarat Pertama] Kepentingan Terbaik Bagi anak

Pengangkatan Anak haruslah berorientasi bagi kebahagiaan anak,

sehingga di dalam Pasal 39 UU Perlindungan anak dinyatakan bahwa Pengangkatan anak hanya dapat dilakukan untuk kepentingan yang terbaik bagi anak,

dan dilakukan berdasarkan adat kebiasaan setempat dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Baca juga Dasar Pertimbangan Hukum dalam Melahirkan Produk Hukum

Tolak ukur kepentingan anak tersebut adalah faktor yang paling membuat anak bahagia di masa depannya,

dimana alasan ini sangat luas namun sangat penting dipahami secara mendalam oleh calon Orang Tua Angkat.

Karena alasan ini yang akan dianalisa oleh Negara dan Pengadilan terkait menguji kelayakan si Orang Tua Angkat dalam tahap-tahap berikutnya.


[Syarat Kedua] Tidak Memutuskan Nasab (hubungan darah) Anak Angkat

Di dalam Pasal 39 UU Perlindungan Anak juga menjelaskan tentang keharusan orang tua angkat,

untuk tidak menutup-nutupi atau memutuskan hubungan darah si Anak Angkat dengan Orang Tua Kandungnya.

Hal ini juga bermaksud agar orang tua angkat akan membuka informasi seluas-luasnya bagi si anak angkat akan keberadaan orang tua maupun saudara-saudara kandungnya.

Dalam hal keterbukaan informasi asal-usul orang tua kandung dijelaskan dalam Pasal 6 PP Adopsi,

bahwa pemberitahuan tersebut dilakukan dengan memperhatikan kesiapan anak angkat,

tentunya hal ini memperhatikan kondisi kesiapan mental si anak angkat.

Artinya Orang Tua Angkat bisa saja merahasiakan adopsi si anak hingga kondisi mental si anak cukup kuat untuk menerima kenyataan bahwa ia adalah anak adopsi.

Dalam hal menunggu kesiapan mental si anak, menutup informasi adopsi bukan merupakan pelanggaran hukum.


[Syarat Ketiga] Orang Tua Angkat Seagama dengan Orang Tua Kandung

Di dalam UU Perlindungan anak tidak digariskan mengenai aturan ini,

syarat ini mucul di dalam Pasal 3 PP Adobsi, sayangnya tidak terdapat penjelasan mengenai alasan diterapkannya persyaratan ini.

Menurut penulis persyaratan ini tidak lebih untuk menghindari sengketa perbedaan agama dengan orang tua kandung di kemudian hari.

Walaupun pada dasarnya setiap anak yang sudah dewasa berhak untuk memilih agamanya sendiri,

namun sebagian besar orang tua kandung menginginkan anaknya seagama dengan dirinya.

Hal ini juga berpengaruh ketika si anak akan menikah dengan cara agama tertentu dan membutuhkan wali,

sementara walinya berbeda agama dengan si anak.

Belum lagi masalah pewarisan misalnya, di dalam waris Islam cukup mempermasalahkan jika ahli waris di luar dari Islam.


Selain ke-3 syarat di atas juga terdapat beberapa Syarat Formil yang harus dipenuhi oleh Pihak Calon Orang Tua Angkat maupun Calon Anak Angkat sendiri:

[Syarat Formil] Calon Orang Tua Angkat

Dijelaskan di dalam Pasal 7 PERMEN, bahwa persyaratan Calon Orang Tua Angkat meliputi:

  • Sehat jasmani dan rohani;
  • Berumur paling rendah 30 (tiga puluh) tahun dan paling tinggi 55 (lima puluh lima) tahun;
  • Beragama sama dengan agama calon anak angkat;
  • Berkelakuan baik dan tidak pernah dihukum karena melakukan tindak kejahatan;
  • Berstatus menikah secara sah paling singkat 5 (lima) tahun;
  • Tidak merupakan pasangan sejenis;
  • Tidak atau belum mempunyai anak atau hanya memiliki satu orang anak;
  • Dalam keadaan mampu secara ekonomi dan sosial;
  • Memperoleh persetujuan anak dan izin tertulis dari orang tua atau wali anak;
  • Membuat pernyataan tertulis bahwa pengangkatan anak adalah demi kepentingan terbaik bagi anak, kesejahteraan dan perlindungan anak;
  • Adanya laporan sosial dari Pekerja Sosial setempat;
  • Telah mengasuh calon anak angkat paling singkat 6 (enam) bulan, sejak izin pengasuhan diberikan; dan
  • Memperoleh izin Menteri atau Kepala Instansi Sosial Propinsi

[Syarat Formil] Calon Anak Angkat

Dijelaskan di dalam Pasal 6 PERMEN, bahwa persyaratan Calon Anak Angkat meliputi:

  • Anak yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun;
  • Merupakan anak terlantar atau diterlantarkan;
  • Berada dalam asuhan keluarga atau dalam Lembaga Pengasuhan Anak; dan
  • Memerlukan perlindungan khusus.

Pasangan Suami isteri yang ingin mengadopsi anak, dan merasa sudah memenuhi syarat-syarat di atas sudah bisa memulai proses pengajuan permohonan mengadopsi anak.

Berikut dapat dijelaskan tatacara pengangkatan anak, dari mulai proses pengajuan hingga penetapan Pengadilan Negeri:


[Tahap Pertama] Menyiapkan dokumen

Sebelum Pasangan Suami Isteri (Pasutri) memasukan permohonan ke Dinas Sosial ditempat dimana ia akan mengangkat anak atau setidaknya sesuai domisili Calon Anak Angkat,

ada beberapa Dokumen yang harus disiapkan terlebih dahulu:

  • Dokumen Pribadi bersama Pasangan seperti KTP,
  • Kartu Keluarga,
  • dan Surat nikah atau akta nikah,

selain untuk mendata indentitas Calon Orang Tua Angkat,

ini juga berfungsi untuk membuktikan bahwa Pasutri tersebut sah secara hukum sebagai pasangan dibuktikan dengan surat nikah yang Valid.

Dari buku/ akta nikah juga akan terlihat apakah pasutri memenuhi syarat sudah menikah lima tahun atau lebih.

Akta Kelahiran Calon Anak Angkat, hal ini membuat kemungkinan pemalsuan nasab si anak sangat kecil,

karena di akta kelahiran tersebut tercantum siapa nama orang tua kandungnya.

Surat Keterangan Cakap Kelakuan (SKCK), dari Kepolisian, untuk membuktikan bahwa Pasutri tidak pernah melakukan tindak kejahatan.

Surat Keterangan dari Dokter Ahli Kandungan dari Rumah Sakit Pemerintah bagi Pasutri yang divonis tidak mungkin mempunyai anak.

Intip Wasiat Sebelum Membuat Surat Keterangan Waris

Surat Keterangan Pendapatan dari tempat bekerja atau Neraca Laba Rugi bagi pengusaha, untuk membuktikan Calon Orang Tua Angkat mampu secara Ekonomi.

Surat Ijin Tertulis dari Wali atau Orang tua Kandung Calon Anak Angkat.

Membuat Surat pernyataan tertulis bahwa pengangkatan anak adalah demi kepentingan terbaik bagi anak, kesejahteraan dan perlindungan anak;

Dalam hal Pasangan Calon Orang Tua Angkat baik salah satu atau keduanya Warga Negara Asing,

maka harus ada Surat Persetujuan dari Keluarga WNA tersebut yang dilegalisasi oleh Instansi Sosial Negara asal (Instansi yang membidangi urusan pengangkatan anak)

Setelah seluruh dokumen diatas sudah lengkap,

maka Pasutri Calon Orang Tua Angkat dapat memasukan permohonannya ke Dinas Sosial,

di tempat dimana akan melakukan pengangkatan anak, biasanya dokumen akan diteruskan ke Dinas Sosial Provinsi.


[Tahap Kedua] Uji Kelayakan Orang Tua Angkat

Setelah dokumen diterima oleh Dinas Sosial di Provinsi,

maka akan dilakukan Uji Kelayakan oleh Pekerja Sosial yang ditunjuk untuk melakukan kunjungan ke rumah Calon Orang Tua Angkat.

Studi kelayakan yang dilakukan adalah memastikan tentang dokumen yang dijadikan berkas permohonan,

memastikan Calon Orang Tua Angkat layak secara ekonomi, dan aspek-aspek lainnya yang bertujuan untuk kepentingan perkembangan anak nantinya.


[Tahap Ketiga] Pengasuhan Sementara

Jika dinilai Calon Orang Tua Angkat layak untuk melakukan pengangkatan anak,

maka berdasarkan laporan dari Pekerja Sosial tersebut dikeluarkan Surat Ijin Pengasuhan Sementara untuk Calon Orang Tua Angkat.

Setelah itu Calon anak angkat mulai dapat diasuh dibawah pengasuhan Calon Orang Tua Angkat,

dengan diawasi perkembangannya oleh pekerja sosial yang selalu membuat laporan selama 6 (enam) bulan.


[Tahap Keempat] Rekomendasi Dinas Sosial

Jika selama 6 (enam) bulan pengasuhan sementara,

Calon Orang Tua Angkat dinilai layak untuk dijadikan Orang Tua Angkat secara permanen,

maka Dinas Sosial Provinsi akan mengeluarkan rekomendasi untuk hal tersebut kepada Kementrian Sosial,

dan akan diterima oleh Direktur Pelayanan Sosial Anak di Kementrian Sosial.

Dasar dikeluarkannya rekomendasi tersebut adalah pembahasan oleh Kepala Dinas Sosial akan hasil penilaian,

dan kelengkapan berkas permohonan pengangkatan anak dengan Tim Pertimbangan Pengangkatan Anak di Provinsi yang terdiri dari perwakilan beberapa lembaga.

Lembaga itu antara lain Kementerian Sosial, Kementerian Koordinator Kementerian Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan,

serta wakil dari Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,

Kemenerian Kesehatan, Polri, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agama, KPAI, Komnas Perlindungan Anak, dan Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia.


[Tahap Kelima] Pertimbangan Oleh KEMENSOS

Setelah diterimanya Rekomendasi oleh Direktur Pelayanan Sosial Anak,

penilaian kelayakan calon orang tua angkat tersebut akan dibahas oleh Tim Pertimbangan Perizinan Pengangkatan Anak (PIPA) di Kemensos.

Pada tahap ini, jika Tim PIPA menyetujui pengangkatan anak tersebut maka akan keluar Surat Keputusan Menteri Sosial tentang persetujuan pengangkatan anak namun jika di tolak,

maka anak akan dikembalikan ke Lembaga Pengasuhan Anak.


[Tahap Keenam] Penetapan Pengadilan

Jika Calon Orang Tua Angkat sudah bermodalkan Surat Keputusan MENSOS yang isinya menyetujui mengenai pengangkatan anak,

maka Calon Orang Tua Angkat dapat mengajukan Permohonan Penetapan oleh Pengadilan Negeri di mana dilakukan pengangkatan anak tersebut.

Jika Penetapan Pengadilan sudah keluar,

maka salinan penetapannya disampaikan lagi kepada Kementrian Sosial untuk dilakukan pencatatan oleh Kementrian Sosial.

Barulah setelah pengangkatan anak mendapat penetapan pengadilan dan tercatat di Kementrian, pengangkatan anak menjadi sah secara hukum.

Advertisements

35 comments

  1. Mo nanya, apa yg harus dilakukan kalo di persulit utk mendaftar ke pengadilan negeri?. Pengadilan Negeri tempat anak berasal minta uang muka, kalo tiak bayar 5 jt tidak mau mengerjakan dan disuruh urus ke pengadilan negeri sesaui ktp saya. pengadilan negeri tempat saya bekerja tidak mau beralasan itu ranah pengadilan agama. Pengadilan sesuai ktp saya blm saya coba karena kesulitan jauh.

    Like

  2. sya mau brtnya,anak sya telah diambil secara paksa n sya jga dipaksa menandatangani surat penyerahan anak yg didalamna tertulis “tanpa paksaan”,apakah sya msih bsa memgambil anak sya kembali,,,?

    Like

  3. To Anonim:
    Sebetulnya saya ingin bertanya balik, siapakah yang megambil anak anda tersebut ? Orag lain atau mantan Isteri/ Suami.

    Jika orang lain : Sudah jelas itu Pidana
    Jika Ex Suami/Isteri: harus melewati prosedur permohonan Hak Asuh di Pengadilan yang berkompeten.

    Terimakasih

    Like

  4. jdi sprti ini sya hamil dlam keadaan blum menikah n orang tua sya jga tdak mnyetujui sya n psangan sya mnikah,setelah anak sya lahir orang tua saya memberikan anak sya kepda org lain(tdak ada hubungan darah sama sekali), sya dipaksa mnyerahkan n menandatangani surat penyerahan anak. Apakah sya msih bsa mengambil anak sya lagi? Adakah solusi?
    Terima Kasih

    Like

  5. Baiklah, saya Mengerti.

    Begini kondisinya: Sampai kapanpun anak itu adalah anak Anda.======

    Jika anda masih menginginkan darah daging anda maka Solusinya:
    1. Cari informasi kemanapun tentang anak anda tersebut, saat ini berada dimana.

    2. Minta baik-baik kepada orang tua angkatya agar anak anda dikembalikan.
    3. Surat penyerahan anak yang dimaksud itu menyalahi aturan.
    4. Jika anda mengalami kesulitan apapun, saran saya anda melapor ke Dinas Sosial atau Komisi Perlindungan Anak, agar diberikan solusi yang lebih baik dan atau bantuan-bantuan lain.

    Terimakasih

    Like

  6. terima kasih atas responnya, jdi bgini saya sbelumna sdah mlakukan sprti yg anda sarankan diatas,1.saya tau dmna anak sya brada,2.Dua hari setelah anak saya diambil,saya sdah mnta baik2 agar anak saya dikembalikan tapi tidak mau diberikan dgan alasan dia sdah trlanjur menyayangi anak saya dan dia langsung memanggil preman untuk menjaga rumahnya,no.4 saya jga sdah mndatangi lembaga perlindungam anak setempat tpi lembaga tersebut tdak mau membantu krna dia mngenal saudara saya dan mnyarankan saya untuk mengikhlaskan anak saya n orang tua saya jga kekeh untuk memisahkan saya dengan anak saya dan ayah dari anak saya,
    apa yang harus saya lakukan?apa ada solusi lain?
    Terima Kasih

    Like

  7. Sama-Sama …

    Jika kondisinya seperti yang Anda ceritakan diatas,
    1. Terkait KPAI Kota setempat, sebenarnya Anda bisa mendisposisikan ke KPAI Provinsi atau Pusat jika anda merasa tidak dibela.
    2. Solusi terakhir adalah Jalur Meja Hijau, Saran saya ibu menghubungi pengacara kepercayaan ibu, agar bisa dibuatkan gugatan untuk hal tersebut.

    Terimakasih

    Like

  8. Pak dodi.. ini saudara saya menikah sdh 10 thn blm punya ketutunan karna ada masalah dg kesuburan suami. Kebetulan ini ada tetangga yg nawarin pengasuhan anaknya yg mau lahir 1minggu lg.. dikarnakan mertuanya tidak mau mrnerima bayi tersebut dan pilihanya kasihkan anak itu pd orang lain atau cerai dg anaknya.. sdg kan si ibu bayi pengen mertahanin pernikahan.. dg cr dikadihkan hak asuh ke saudara saya.. trus langkah hukum apa dl yg harus saudara saya lakukan supaya tdk melanggar undang2.. trimakasih

    Like

  9. Pak dodi.. ini saudara saya menikah sdh 10 thn blm punya ketutunan karna ada masalah dg kesuburan suami. Kebetulan ini ada tetangga yg nawarin pengasuhan anaknya yg mau lahir 1minggu lg.. dikarnakan mertuanya tidak mau mrnerima bayi tersebut dan pilihanya kasihkan anak itu pd orang lain atau cerai dg anaknya.. sdg kan si ibu bayi pengen mertahanin pernikahan.. dg cr dikadihkan hak asuh ke saudara saya.. trus langkah hukum apa dl yg harus saudara saya lakukan supaya tdk melanggar undang2.. trimakasih

    Like

  10. salam sejahtera pak Dodi Oktarino, SH, MKn.
    Pak saya ingin bertanya, umur pernikahan kami sudah 6 tahun belum di kasih keturunan, saat itu istri saya di tawarkan untuk mengadopsi anak hasil dari zinah karena pergaulan seorang siswi SMA kelas 2,dan yang yang menawarkan nya itu adalah bibi dari si Anak yang sudah hamil 8 bulan, saya pribadi rumbukan dari pihak keluarga saya, mertua saya dan semuanya mendukung untuk mengadopsi anak dari hasil kecelakaan hamil diluar nikah, jadi yang ingin saya tanyakan adalah , apakah saya hanya cukup membuat surat pernyataan penyerahan anak dari pihak ke 1 (satu) yaitu orang tua yang melahirkan saja dan saksi bidan yang membantu persalinan melahirkan tanda tangan di atas Materai secara kekeluargaan, atau saya juga harus membuat permohonan surat adopsi anak ke Dinas Sosial atau KPAI/LPA setempat ? mohon jawabanya.

    Like

  11. Salam kenal Pak Dodi, nama saya Fian telah menikah selama 3 tahun belum dikasih keturunan. Apakah saya bisa mengadopsi anak? karena syaratnya ternyata minimal sudah menikah selama 5 tahun. Sebelumnya saya pernah mencoba inseminasi, dan saya juga pernah operasi pengangkatan myom dan polip. Trimakasih….

    Like

  12. salam pak,
    sy mau tnya.sy sdh menikah dan sampai skr Allah blom memberikan kami anak.kami udh mengangkat anak laki2 dr usia baby 5 bln dan skr sdh jln 9 bln.org tuanya kami tdk tau,kami angkat anak ni dr tgn kedua yg tdk punya status menikah jg.menurut mrerka anak tu adalah anak temannya.
    mereka bwt surat dan mreka tnda tangani diatas materai 6000 yg berisikan bhwasanya mereka memberikan hak asuh kpd kami.
    Alhamdulillah kami merawatnya dgn penuh ksh syg.tp seiring jlnnya waktu,mreka dtg lg kpd kami mau melihat dan meminjam anak tsb,kami tdk mengindahkannya.mreka marah dan mengancam kami melapor k polisi.
    dsini prtnyaan sy,apa yg hrs sy lakukan? mohon penjelasannya..terimakasih

    Like

  13. Ass.wr.wb. pak dodi. Saya ibu herman ingin bertanya tentang adopsi anak dari adik saya yang sudah meninggal dan suaminya juga sudah meninggal. Oleh pihak keluarga suami adik saya (kakeknya dan kakaknya) anak tersebut diberikan pada orang lain yang tidak ada hubungan darah/ keluarga. Kami dari pihak perempuan keberatan dan ingin mengambil dan merawatnya. Saat ini anak tersebut sudah berumur 2 tahun dan sempet dirawat oleh 2 orang tua yang berbeda beda. Orang tua angkat pertama pernah mengembalikan ke kakeknya karena tidak sanggup kemudian diberikan lagi pada keluarga yang lain. Saya prihatin dengan ponakan saya jadi ingin merawat secara sah dimata hukum tetapi pihak keluarga suami adik saya keliatannya tidak mengizinkan. Hubungan keluarga kami memamg tidak baik karena alm. Suami adik saya sering kdrt baik fisik maupun verbal. Mohon petunjuk dan saran dari pa dodi dari sisi hukum yang berlaku. Terimakasih.

    Like

  14. Ass.wr.wb sy mau tanya..sy org indonesia menikah dgn org mlys sdh 2 thun ada seorang teman mau memberikan ank kembar dia ke sy utk sy adopsi tpi skrg dia di indonesia dan sy tgl di mlys .sy gk tau bagaimana caranya utk mengadopsi anak2 dia dan bawa tinggal di malaysia

    Like

  15. Saya maunanya , ada saudara saya hamil 8bln anak yg d kandungnya itu d berikan kpd saya, dan sekarang sudah lahir untuk megurus proses adopsi nya gmana kira 2berapa bulan dan biaya nya kisaran berapa?

    Like

  16. Selamat Pagi,
    Saya ingin mengadopsi anak yang sudah saya besarkan sejak umur 2 tahun dengan sepengetahuan orang tua laki – lakinya. karena orang tua perempuan anak tersebut adalah kakak kandung saya. saya berumur 31 tahun belum menikah. karena urusan sekoalh anak tersebut saya sangat membutuhkan legalitas pengangkatan anak saya. sekarang anak saya tersebut sudah umur 11 tahun. Apakah saya bisa melakukan adopsi jika keadaannya begitu? Bagaimana prosedurnya? mohon bantuannya.

    Like

  17. Mau tanyak pak,saya lajang,tapi saya memiliki teman perempuan sudah tidak bersuami dan sekarang dalam keadaan hamil,dan dia tidak mampu untuk merawat anak tersebut ketika lahir nanti,dan dia menawarkan anak tersebut untuk saya pelihara dan saya berminat,langkah apa yang harus saya lkukan agar tidak menyalahi undang2….

    Like

  18. Mau tanyak pak,saya lajang,tapi saya memiliki teman perempuan sudah tidak bersuami dan sekarang dalam keadaan hamil,dan dia tidak mampu untuk merawat anak tersebut ketika lahir nanti,dan dia menawarkan anak tersebut untuk saya pelihara dan saya berminat,langkah apa yang harus saya lkukan agar tidak menyalahi undang2….

    Like

  19. Mau tanyak pak,saya lajang,tapi saya memiliki teman perempuan sudah tidak bersuami dan sekarang dalam keadaan hamil,dan dia tidak mampu untuk merawat anak tersebut ketika lahir nanti,dan dia menawarkan anak tersebut untuk saya pelihara dan saya berminat,langkah apa yang harus saya lkukan agar tidak menyalahi undang2….

    Like

  20. Pak dodi saya adalah singgle parents yg mmbesarkan ank sejak dlm kndungan sendirian..dlu sy bkrja tapi sekarang tdk lgi karna lelah selalu terpisah dg ank,sy mmpunyai seorang kakak yg bkrja sbgai guru,kk itu jg seorang singgle parents yg punya 2 orang anak tapi sudah bekerja semua,kk sy jga seorang guru yg sudah bersertifikasi yg mndapt tunjangan 10jt/3bulan..kk saya ingin menjadikan anak saya sebagai anak adopsi agar mendapat tunjangan gaji kk sy…untuk mmbantu by.pendidikan ank sy..apakah bisa pak?

    Like

  21. Pak dodi sya ingin mengambil ank angkat dari Panti Asuhan lewat pengadilan tetapi anak yang akan sy ambil tdk diketahui keberadaan kedua org tuanya..krena anak tersebut di buang. sehingga kemarin langsung ditangani pihak kepolisian karena msuk kerana hukum.. bagaimana seharusnya pak dodi..

    Like

  22. saya mau tanya Pak Dodi, Apakah Yayasan Sayap Ibu berperan atau terlibat untuk pengangkatan anak yang masih ada hubungan darah?.Kebetulan kami ingin mengangkat keponakan dari istri saya.Anak dari adik laki laki istri saya.

    Like

  23. ingin bertanya. saya saat ini sedang merawat dua orang anak dari adik saya yang telah meninggal. status almarhumah adik saya adalah cerai hidup. sedang ayah dari kedua anak ini sedang dalam keadaan sakit keras. dan ketika menghubungi keluarga dari mentan adik ipar saya tidak ada yang menanggapi.
    pertanyaan saya bagaimana caranya jika saya ingin mengadopsi kedua anak tersebut? pada hal saya belum menikah. terima kasih

    Like

  24. Pak dodi, saya telah mengadopsi anak dari orang lain sejak umur 5 hari sampai sekarang umur 1 tahun..ibu kandung dan neneknya(dari ibunya) telah menyetujui untuk kami rawat dengan memberikan surat pernyataan dan kami ada saksinya. Kemudian kami mengurus kepengadilan agama, tapi ada satu syarat yg tidak bisa kami penuhi yaitu buku nikah dari orang tua kandungnya(kata neneknya, buku nikahnya tidak ada) sehingga akhirnya membatalkan proses itu walaupun kami sudah membayar pajaknya. Kami sempat tanya ayah kandungnya, tapi mereka(ibu dan neneknya), berkata kalau ayahnya tidak tau dimana(sepertinya neneknya tidak merestui hubungan mereka?)..tiba tiba, 2 hari yang lalu ibu saya berteman difacebook dengan ayah kandungnya dan ayah kandungnya memposting foto anak yang telah kami rawat(fotonya didapat dari postingan Facebook ibu saya). Pertanyaan saya, apakah orang tua kandungnya masih bisa mengambil anak yang telah kami rawat? Bagaimana solusinya, karena kami sudah sayang dan sudah menikah 7 tahun tapi belum mempunyai anak? Dan kami sudah membuat akta kelahiran dengan orangtuanyaialah kami. Tolong dibalas, terima kasih.

    Like

  25. Saya mau bertanya saya mau adopsi anak yang di buang d halaman di wilayah tempat tinggal saya. Sampi sekarang sudah kurang lebih 3 bulan. Persyratn semunya udah saya tempuh. Termasuk prmulir dan segala macamnya udah sayah tempuh. Surpei dari dinas kabupaten udah dilakuln dan hasilnya layak. Apalagi dari opd setmpat sudah layak. Nah yang jadi permasalahn ketika anak di bawa ke propinsi bagian ship cilrdn saya di sebutkan kurang layak. Karena umur usia istri saya kurang dari 30 tahun. Apa solusi yang harus saya ambil??

    Like

  26. Saya mau tanya .
    Kalo ambil hak asuh anak dari orang tua sendiri gimana caranya ?
    Jadi ibu sya setelh cerai menikah lagi tapi hanya siri sedangkan si anak ditinggal bapaknya n ibu saya gak mau ngurusin lagi .
    Karna saya belum punya anak terlebih saya kakaknya n merasa kasihan saya mau adek saya jadi anak saya .
    Caranya gimna ya ???

    Like

  27. Saya mau tanya .
    Kalo ambil hak asuh anak dari orang tua sendiri gimana caranya ?
    Jadi ibu sya setelh cerai menikah lagi tapi hanya siri sedangkan si anak ditinggal bapaknya n ibu saya gak mau ngurusin lagi .
    Karna saya belum punya anak terlebih saya kakaknya n merasa kasihan saya mau adek saya jadi anak saya .
    Caranya gimna ya ???

    Like

  28. selamat sore pak,,
    perkenalkan nama saya kiki..
    saya baru saja diberikan amanah (bayi) dari sepupu suami saya,, sepupu suami saya maaf ngomong tidak sanggup mengurusi anak ini.. kira2 apa yg harus kami lakukan?
    buat surat adopsi sesuai dengan persyaratan diatas, atau cukup surat penyerahan anak dari orang tua kandung ke orang tua angkat (kami).
    kami hanya bantu mengurusi, mendidik, merawat dan menyayangi layaknya anak kami.
    dan kami pun sebenarnya belum dikaruniai keturunan, usia pernikahan 4 tahun..
    terima kasih
    balas

    Like

  29. Menurut saya “Orang Tua Asuh” dengan “orang Tua Angkat” memiliki dua pengertian yang berbeda, jika ibu konsepnya membantu saudara yang kurang mampu merawat anaknya, menurut saya tidak masalah. Hanya saja anak yang dimaksud semakin hari pasti semakin bertumbuh dewasa, dan akan mencari orang tuanya sendiri. Dalam Fase itu, ibu tidak bisa menghalangi niat si Anak.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s